15 Masalah Lingkungan Hidup Dunia Yang Terparah Sepanjang Tahun 2015

riau

Banyak hal yang terjadi tentang masalah LINGKUNGAN HIDUP pada tahun 2015, mulai dari bencana pertambangan, peningkatan kabut asap di Indonesia dan deforestasi di Amazon dimana :

  • Pada tahun ini Presiden Obama menolak Pipa Keyston karena berdampak pada kekeringan yang hebat dan kebakaran yang didera Amerika Serikat dan Kanada
  • Dunia juga berkomitmen untuk aksi iklim di Paris dan Asia Tenggara tentang bencana kabut di Indonesia adalah terburuk dalam tahun ini
  • Shell membatalkan rencananya untuk mengebor di Kutup Utara untuk masa yang akan datang dan ExxonMobil yang sedang diselidiki karena berbohong kepada public tentang resiko iklim

Ada 15 masalah lingkungan yang terjadi pada tahun 2015 :

  1. 2015 adalah dimana periode terburuk dan paling lama dari bencana kabut di Indonesia

Krisis asap yang diciptakan oleh kebakaran hutan di Indonesia merupakan kejadian tahunan, akan tetapi tahun ini menjadi sangat buruk bahkan terparah sepanjang sejarah dengan indonesia sendiri melaporkan korban tewas 19 orang dan setengah juta jiwa warga menderita penyakit pernafasan.

Kebakaran hutan dan kabut asap yang dihasilkan tidak hanya membahayakan bagi kesehatan manusia, tetapi satwa liar juga merasakan dampaknya. Sehingga mengakibatkan berkurangya kemampuan tanaman untuk reproduksi dan melakukan fotosintesis.

Kebakaran juga menghasilkan sebanyak 600 jutaan ton karbon ke atmosfer, sehingga menurut Global Api Emisi Database itu akan dampak terhadap pemanasan global dan membuat musim api masa depan akan lebih buruk.

Dua puluh tiga perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan akan di denda dan yang memiliki izin pembukaan lahan akan di cabut oleh Pemerintah Indonesia. Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang terkena dampak kabut asap. Banyak negara tetangga yang juga ikut merasakan dampak dari kabut asap tersebut.

riau

2. Dunia berkomitmen untuk aksi iklim di Paris menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah

Hampir 200 negara mengirimkan negosiatornya untuk membuat sebuah kesepakatan demi mengatasi perubahan iklim yang terjadi di Paris pada Desember tahun ini. Kesepakatan atau perjanjian tersebut mengikat negara-negara untuk membatasi emisi gas rumah kaca yang bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu global yaitu 2 derajat Celsius (sekitar 3,6 derajat Fahrenheit) untuk pra-industri tingkat sedang.

Semua yang ikut serta dalam penandatanganan diminta mengambil tindakan untuk lebih hemat energi, mengurangi deforestasi dan degradasi hutan dan mengurangi pembakaran bahan bakar fosil. Ini berlaku untuk negara kaya industri seperti Amerika Serikat dan Cina serta negara-negara kecil yang telah berjuang dengan dampak dari kenaikan permukaan laut dan suhu.

Bebarapa elemen dari perjanjian mengikat secara hukum, akan tetapi negosiator Amerika Serikat di Kongres tidak akan meratifikasikan perjanjian yang mengikat tentang pengurangan emisi yang bersifat sukarela karena Partai Republik. Meskipun faktanya pada tahun 2015 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, namun 2016 akan menjadi lebih panas lagi.

Badan Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan bahwa kelambanan pada perubahan iklim bisa berarti bahwa suhu rata-rata global akan naik 6 derajat Celsius atau lebih.
indonesia_20150619
danau yang kering di Sumetera, Indonesia

3. Shell membatalkan upaya untuk mengebor di Kutup Utara

Ketika Royal Dutch Shell, kapal pemecah es di Fennica yang merupakan kapal penting untuk Arctic armada pengeboran perusahaan untuk melakukan Portland untuk laut Chukchi tertunda oleh salah satu tindakan protes pada tahun 2015.

Tiga belas aktivis Greenpeace tergantung dari St Jhohn Bridge yang di dukung oleh armada “kayaktivis” memblokir bagian kapal selama dua hari sebelum pemerintah mampu membersihkan jalan bagi Fennica untuk bergabung dengan sisa armada. Dua bulan kemudian, Shell melaporkan ada 4,1 miliar lubang dan juga mengumumkan akan secara resmi memberhentikan pengeboran di Kutup Utara. Perusahaan juga menyatakan mereka akan meninggalkan ambisi Arctic mereka untuk masa mendatang. Sementara itu harga historis untuk prospek minyak dunia akan turun untuk kedepanya.

4. Laju Deforestasi di Brazil telah berangsur kembali ke atas pada tahun ini, namun Deforestasi masih turun secara keseluruhan di hutan hujan Amazon

Laju Deforestasi di Brazil menurun dratis selama beberapa dekade tahun terakhir ini, yang mana telah menyelamatkan 1.700 nyawa dalam setahun dan juga menjadi kabar baik bagi satwa liar, masyarakat dan iklim di bumi. Akan tetapi, sebuah analisis data satelit mengatakan bahwa deforestasi di Amazon Brazil mungkin telah mencapai tujuh tahun. Pemerintah Brazil juga menegaskan bahwa deforestasi jauh lebih tinggi pada tahun 2015 dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Namun, secara keseluruhan tren deforestasi sudah mulai menurun tajam, baik di dalam maupun di luar Amazon Brazil yaitu antara 2010 – 2013. Sebuah studi juga menyatakan laju deforestasi tahunan rata-rata di sebagian besar negara Amazon non-Brazil termasuk Bolivia, Kolumbia, Akuador, Guyan, Peru dan Suriname jatuh secara signifikan dalam jangka waktu relatif pada tahun 2005-2010. Hanya saja negara Venezuela dan Guyana yang masih melihat peningkatan deforestasi tersebut. Meskipun tren di negara Venezuela sangat menggangu, tetapi laju deforestasi di negara tersebut terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

5. Kepunahan global yang disebabkan oleh Manusia

Pada awal tahun ini, sebuah penelitian menyatakan bahwa selama beberapa dekade ini tindakan kita mengarah kepada peristiwa kepunahan masal global yang keenam dengan kepunahan masal terakhir disebabkan oleh peristiwa bencana alam seperti asteroid atau komet besar yang bertabrakkan dengan bumi dan vulkanisme hiperaktif.

Menurut para peneliti, manusia mungkin memusnahkan spesies keluar pada tingkat minimal 100 kali lebih cepat dari tinggat sejarah berdasarkan asumsi kepunahan masa lalu dan saat ini. Para peneliti juga menyatakan upaya untuk kenservasi spesies yang sudah terancam punah dan meringankan tekanan pada populasi satwa liar. Serta untuk perusakan habitat terutama eksploitasi untuk keuntungan ekonomi dan perubahan iklim.
hg

6. Harga minyak dunia

Harga minyak lebih rendah pada awal Desember 2015 dari pada selama krisis keuangan tahun 2008 – 2009 ketika krisis ekonomi global dalam pergolakan besar. Kali ini bukan lemahnya permintaan sehingga harga menjadi turun, namun karena suplay minyak di pasar global yang sebagian besar berasal dari produksi di pasir tar Amerika Utara dan ladang minyak fracked.

Sejak awal tahun 2014 harga untuk beberapa minyak untuk beberapa komoditas global telah merosot. Seperti minyak sawit turun 40 persen, kedelai turun sepertiga dan daging sapi dengan sepersepuluh. Namun parah ahli menyatakan kenyataan yang lebih kompleks. Dimana harga komoditas yang rendah juga mengurangi pengeluaran pemerintah pada program konservasi, sehingga mendorong peningkatan perubahan penggunaan lahan untuk pertanian subsistem dan memprovokasi tekanan politik oleh perusahaan yang ingin melihat berkurangnya perlindungan hutan.

Disisi lain, harga komoditas yang rendah memberikan peluang baru untuk konservasi dengan membuat lebih mudah membangun cadangan melalui akuisisi lahan dan membujuk pemerintah untuk mengatur dan menyisihkan daerah yang dilindungi.
d

Ladang minyak Duri Chevron di Riau, Sumatera

7. Penyelidikan menyatakan bahwa ExxonMobil telah mengetahui tentang bahaya perubahan iklim semenjak awal tahun 80-an, akan tetapi terus mendanai penolakan iklim

Investigasi yang dilakukan oleh InsideClimate Berita dan LA Times mengungkapkan bahwa badan eksekutif di ExxonMobil telah diperingatkan tentang dampak dari bencana perubahan iklim oleh para ilmuwan perusahaan mereka sendiri pada awal tahun 1981.

Sekarang semua orang dari calon presiden Bernie Sanders US Senator dan anggota DPR AS menyerukan ExxonMobil harus bertanggung jawab atas tindakanya. Dan jaksa Agung New York Eric Schneiderman telah meluncurkan sebuah investigasi apakah perusahaan sengaja berbohong kepada investor dan masyarakat tentang perubahan iklim.

8. Dibunuhnya aktivis lingkungan

Menurut sebuah laporan berbasis di London LSM Global Witness yang dirilis pada awal tahun ini, “ setiap minggu setidaknya dua orang terbunuh untuk mengambil sikap terhadap kerusakan lingkungan”. Laporan ini juga mengemukakan bahwa 116 aktivis lingkungan dibunuh pada tahun 2014. Hampir setengah dari mereka adalah aktivis adat. Mereka kebanyakan dibunuh karena menentang proyek bendungan hidroelektrik dan pertambangan dan operasi agribisnis pada tanah mereka.

Sayangnya tahun ini kita masih melihat kasus yang sama. Meskipun tidak semua kasus ini terbukti terkait dengan korban aktivisme. Berikut ini adalah beberapa dari orang-orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk lingkungan yang hilang pada tahun ini.

Fernando Salazar Calvo yang ditembak di luar rumahnya di Kolombia. Dia adalah seorang anggota aktif dan juru bicara Asosiasi Artisanal penambang dari Reservation Cañamomo Lomaprieta Adat.

Jopi Peranginangin, seorang aktivis Indonesia berumur 39 tahun yang menentang ekspansi kelapa sawit yang tak terkendali dan juga kepala kampanye untuk Sawit Watch yang ditikam sampai mati di luar sebuah klub malam di Jakarta Selatan.

Telesforo Odilo Pivaral Gonzalez, yang secara aktif menentang proyek Escobal tambang perak yang sarat dengan konflik yang dibunuh oleh penyerang tak dikenal dengan menembaknya sebanyak lima kali

9. Kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kebakaran hutan yang didera Amerika Serikat bagian Barat dan Kanada

California tidak menderita sendirian, namun ikut dalam kondisi kekeringan dan juga berkontribusi pada musim api yang menakutkan di seluruh Amerika Serikat bagian Barat dan Kanada. 5 juta hektar Alaska telah dibakar pada bulan Agustus 2015 ini. Hampir 10 juta akses total telah terbakar di seluruh Amerika Serikat tahun ini sehingga menyebabkan musim api terburuk dalam sejarah Washington.

Sementara itu, di Kanada bagian Barat ribuan orang harus dievakuasi dari rumah mereka akibat kebaran hutan. Sebuah studi juga menunjukkan peningkatan partikel di udara karena kebakaran mengakibatkan meningkatnya resiko serangan jantung dan kondisi jantung lainya

10. Presiden Obama menolak pipa Keyston XL

Sebulan sebelum pembicaraan iklim di Paris, Presiden Barack Obama mengumumkan penolakannya untuk pipa Keystone XL. Kerena melihat dampak yang akan ditimbulkan proyek tersebut terhadap iklim global. Presiden Obama juga mengatakan bahwa pipa tersebut bertujuan untuk mengangkut minyak mentah pasir tar dari Alberta ke Kilang di Pantai Teluk AS bukanlah kepentingan bangsa.

11. Bencana iklim dapat dihindari dari deforestasi tropis

Sebuah studi yang dirilis pada malam pembicaraan iklim di Paris menemukan bahwa memotong deforestasi tropis pada tahun 2020 akan sangat membantu mengurangi laju pemanasan global. Tentu saja ada banyak emisi untuk menyelamatkan dan menghentikan deforestasi.

Para peneliti juga menemukan bahwa pengundulan hutan tropis di atas rata-rata 2.270 juta metrik ton emisi karbon setiap tahun 2001-2013. Mengurangi deforestasi global mungkin terdengar seperti tugas yang sangat sulit, tetapi sebuah studi di Brazil menyataka bahwa itu dapat dicapai.

Deforestasi di Brazil merilis bahwa rata-rata 1.066 juta ton metrik karbon ke atmosfer di antar 2001 dan 2013, hampir dari setengah dari beban global. Tetapi keuntungan besar negara dalam mengurangi deforestasi juga telah menurunkan emisi pada pada tahun 204-2009. Emisi karbon kotor di Brazil turun menjadi 482 juta metrik ton.

Masyarakat Internasional akhirnya serius untuk memerangi deforestasi sebagai upaya untuk menghentikan suhu global yang terus meningkat.
c
x

Hilangnya pohon penutup (atas) dan emisi karbon yang dihasilkan (bawah) di Brazil berubah jauh antara 2004 dan 2009 karena peraturan penggunaan lahan ditingkatkan

12. Limbah tambang beracun tumpah lebih dari 800 kilometer dari Brazil

Ketika Fundão tailing dam di negara bagian Minas Gerais Brazil gagal awal tahun ini, dipicu oleh bencana lingkungan yang terbesar dalam sejarah di negara tersebut. Sebanyak 62 juta liter lumpur bercun yang dibentuk oleh limbah biji besi dan silika yang tersisa dari operasi pertambangan mengubur ke kota bersejarah Bento Rodrigues dan berkeliling sepanjang 600 mil dan akhirnya mencapai Sungai Doce dan garis pantai Antlantik negara Espírito Santo.

Setidaknya 11 orang tewas, ratusan lainnya dipaksa keluar dari rumah mereka serta pasokan air lebih dari 250.000 orang telah terkontaminasi oleh kosentrasi tinggi dari logam berat.

Menurut seorang peneliti dari Universitas Federal Minas Gerais mengatakan bahwa “Seperti tidak ada pernah ada insiden lingkungan sebesar ini, adalah mustahil untuk menghitung dampak nyatanya sekarang”.
a
Sebuah rumah di sepanjang Sungai Doce

13. Volkswagen tertangkap sengaja melanggar standar udara bersih

Amerika Serikat Environmental Protection Agency mengumumkan pada bulan September bahwa mereka telah menemukan produsen mobil Volkswagen menginstal software di beberapa mobil yang yang sengaja dirancang untuk menurunkan emisi ketika uji emisi sedang dilakukan, dan untuk melepaskan tingkat yang melanggar Clean Air Act standar sisanya waktu.

Sekitar setengah juta kendaraan diesel yang dijual di AS mengandung “perangkat kekalahan,” tetapi perusahaan mengakui bahwa sebanyak 11 juta mobil terjual di seluruh dunia memiliki tes-kecurangan software emisi.

14. Buruknya polusi udara di Beijing

Dikutip dari pembacaan dari Kedutaan Besar AS di Beijing Cina, kualitas udara di kota dinilai “baik” atau lebih kurang dari 20 persen. Kosentrasi partikel di atmosfer melonjak ke tingkat berbahaya sehingga pemerintah sering memerintahkan ribuan pabrik untuk mengurangi produksinya dalam upaya untuk mengurangi kabut asap yang meliputi ibukota Cina

15. Komoditas kelapa sawit yang masih kontroversi di dunia

Produksi minyak sawit menyebabkan sejumlah konflik frofil tinggi tahun ini. Di Indonesia penduduk suku dayak mengatakan perbatasan mereka yang digambar ulang untuk memungkinkan kedua perusahaan untuk tumbuhan kelapa sawit di wilayah mereka. Di Peru, di mana lebih dari 9.400 hektar (lebih dari 232.000 are) tertutup kanopi hutan hujan Amazon telah dihapus karena dua perkebunan kelapa sawit di wilayah Ucayali sejak tahun 2011. Banyak aktifis yang berbicara dan menentang deforestasi ini menerima ancaman kemantian.
gf
Perkebunan kelapa sawit dan hutan bakau di Kalimantan

Untuk Informasi Lebih Lanjut, Hubungi :

Eni Endri Yeni | Senior Marketing Partner | PT Benefita Indonesia
HP: 0813 10138048 | Email: eniendriyeni@benefita.com
Website : http://www.pelatihanlingkungan.com| http://www.trainingproper.com | http://www.limbahb3.com

PT. BENEFITA INDONESIA PROVIDER TRAINING ENVIRONMENT TERBESAR & TERLENGKAP Se-INDONESIA (Since 1 April 1998)

Artikel Terkait:

sumber : Mongabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>