Sertifikasi Industri Hijau Tahun 2016 dan Program Penyelamatan Bumi

09-EP-06-Industri-Hijau (Jakarta)

Pada pertemuan G-20 di Pittsburg tahun 2009, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan gas rumah kaca sebesar 26%. Untuk menunjukkan keseriusan tersebut Pemerintah Indonesia akan memasukkan Industri Hijau dalam UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. Penurunan emisi GRK pada sektor industri berkaitan erat dengan peningkatan efisiensi dalam pemakaian bahan baku, bahan penolong, air, energi, pemakaian teknologi rendah karbon yang pada ujungnya mampu meningkatkan daya saing produk.

Penurunan emisi GRK secara kolektif akan menyelamatkan bumi dari berbagai kerusakan seperti peningkatan suhu yang sudah mulai dirasakan dengan adanya perubahan iklim yang berdampak pada ketidakpastian kemampuan petani di dunia dalam menyediakan bahan pangan untuk sekitar 6 milyar populasi. Diperlukan terobosan pada berbagai sektor termasuk sektor industri.

Program Sertifikasi Industri Hijau

Industri Hijau yang dimaksud dalam UU No. 3 Tahun 2014 tentang perindustrian adalah Industri yang dalam proses produksinya mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan Industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan adanya penghematan penggunaan sumber daya secara berkelanjuatan termasuk dalam pemakaian energy, maka penerapan industri hijau akan mampu mengurangi jumlah GRK yang akan teremisi keudara/atmosfir.

Dalam rangka mewujudkan Industri Hijau tersebut, Pemerintah melakukan:

    1. Penguatan kapasitas kelembagaan
    2. Standardisasi yang meliputi standar dan sertifikasi
    3. Memberikan fasilitasi dalam mendorong investasi Industri Hijau

Adapun konsep tentang Industri Hijau yaitu dengan mengutamakan efisiensi dalam proses produksi dengan karakteristik sebagai berikut:

    1. Penggunaan material, energi dan air dengan intensitas yang rendah
    2. Penggunaan energi alternatif
    3. Melakukan teknilogi rendah karbon
    4. Sumber daya manusia yang kompeten

Untuk mempercepat penerapan industri hijau pada tahun 2016 ini, pemerintah akan memberlakukan standar wajib untuk beberapa kelompok industri yang utamanya dalam pemakaian energi seperti semen, baja,, keramik, pulp, kertas, tekstil, makanan dan minuman. Penerapan ini dilakukan melalui system/skema sertifikasi. Pada skema sertifikasi menuntut kelengkapan infrastruktur standardisasi seperti Lembaga Sertifikasi Industri Hijau, Auditor Industri Hijau, Laboratorium uji serta Komite Otoritas Lembaga Sertifikasi Industri Hijau.

United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2014 menyatakan bahwa:

    1. Akan dihasilkan lebih dari 36 miliar metrik ton karbondioksida yang akan menyebabkan peningkatan temperatur sebesar 3 derajat celcius atau lebih pada akhir abad ini
    2. Terjadi defisit kebutuhan air bersih, mengingat kebutuhan air bersih akan mencapai 2 miliar kilometer kubik, sementara ketersedian jumlah air bersih yang ada di bumi sekitar 1,4 miliar kilometer kubik
    3. Kebutuhan akan energi diperkirakan menjadi 3 kali lipat dari jumlah energi yang kita gunakan saat ini
    4. Populasi diperkirakan akan melampaui 9 miliar
    5. 60 persen dari ekosistem yang ada akan rusak dan tidak dapat diperbaharui

Program penerapan industri hijau yang direncanakan oleh pemerintah Indonesia sesungguhnya untuk meningkatkan daya saing produk industri dalam rangka ikut berkontribusi dalam program atau usaha penyelamatan bumi. Peningkatan daya saing bisa diperoleh dari menurunnya biaya produksi, peningkatan citra produk baik ditingkat nasional maupun global. Dengan pemakaian air yang rendah, energi yang hemat, mengurangi bahan baku yang efisien dalam kegiatan produksi. Sehingga hal ini akan berdampak pada penurunan jumlah limbah, penurunan jumlah GRK yang teremisi ke atmosfir dan sejalan dengan usaha kegiatan penyelamatan bumi.

Ada 2 (dua) strategi dalam mewujudkan industri hijau, yaitu:

    1. Mengembangkan Industri yang sudah ada menuju Industri Hijau (Greening of Existing Industries)
    2. Membangun Industri baru dengan menerapkan prinsip-prinsip Industri Hijau (Creation of New Green Industries)

Usaha yang telah dilakukan dalam pengembangan Industri yang sudah ada menuju Industri Hijau antara lain:

    1. Rencana penerapan 5 standar industri hijau yaitu industri tekstil, ubin keramik, semen, baja, pulp dan kertas
    2. Katalog bahan baku ramah lingkungan untuk industri tekstil, ubin keramik dan makanan
    3. Pedoman umum dan teknis konservasi energi dan pengurangan emisi gas CO2
    4. Panduan teknis untuk studi kelayakan untuk implementasi Konservasi Energi dan Pengurangan Emisi CO2
    5. Panduan pengolahan limbah cair, bahan berbahaya dan beracun (B3)
    6. Panduan produksi bersih
    7. Pemberian penghargaan Industri Hijau sejak tahun 2010 dan hingga tahun 2014 telah diberikan penghargaan kepada 256 perusahaan

Untuk Informasi Lebih Lanjut, Hubungi :

PT. BENEFITA INDONESIA PROVIDER TRAINING ENVIRONMENT TERBESAR & TERLENGKAP Se-INDONESIA (Since 1 April 1998)

Artikel Terkait:

sumber:ngakanta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>